Rabu, 10 Desember 2008

keraguan nuklir di Indonesia.

SDM indonesia tidak siap mengoperasikan PLTN. Itulah salah satu alasan yang sering dilontarkan orang ketika mereka tidak setuju tentang rencana pemerintah membangun PLTN di indonesia. Ini tergambar dari sebuah topik dalam sebuah forum diskusi yang sering saya ikuti. Mereka berdalih bahwa sumber daya manusia dan teknologi indonesia tidak sanggup untuk mengelola teknologi canggih ini. Atas pemikiran itulah saya berpikir perlu untuk sedikit menjelaskan kepada mereka terutama yang masih awam dengan teknologi yang “mendebarkan” ini. Mungkin tulisan saya ini masih kurang disana -sini, wajar saja, mungkin ini dikarenakan keawaman saya dalam hal tulis menulis :mrgreen:
Sejarah nuklir indonesia dimulai pada tanggal 16 November 1964 ketika ilmuwan-ilmuwan anak bangsa yang dipimpin Ir. Djali Ahimsa berhasil menyeleseikan criticality-experiment terhadap reaktor nuklir pertama Triga Mark II di Bandung. Pada keesokan harinya tertanggal 17 November 1964 Surat Kabar Harian Karya memberitakan soal kedatangan abad nuklir di Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 November 1964 Radio Australia mengumumkan bahwa“Indonesia mampu membuat reaktor atom”. Disusul dengan ulasan dua menit oleh “stringer” AK Jacoby yang menulis : Indonesia masuk abad nuklir. Suatu hal yang sungguh membanggakan bahwa di umurnya yang masih 19 tahun, Indonesia berhasil melakukan apa yang negara - negara maju telah lakukan. Inilah bukti bahwa bangsa kita adalah sejajar dengan bangsa lain.
Hari Sabtu, tanggal 20 Februari 1964 reaktor pertama dengan daya 250 kW ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada waktu itu Ir.Soekarno. Reaktor ini digunakan untuk keperluanpelatihan, riset, produksi radio isotop. Reaktor ini mengalami dua kali pembongkaran untuk mengganti beberapa komponen utamanya pembongkaran pertama pada 1972 dipimpin Sutaryo Supadi dan yang kedua pada 1997 dipimpin Haryoto Djoyosudibyo dan A. Hanafiah.

Tidak ada komentar: